Salma dan Nattan juga ikut ke sawah sampai proses memanen selesai. Untung cuaca sangat mendukung, dari pagi sampai siang matahari tidak menampakkan wajahya, sama sekali tidak panas dan sedikit hujan rintik rintik turun skitar jam dembilan, Alhamdulillah cuma sebentar.
Skitar jam 6.30 kita sudah berkumpul disawah hujan rintik rintik lembut turun, kita tunggu perkembangan cuaca sebentar dan kebetulan si elik sebutan singkat salma untuk pak liknya sudah membawakan menu sarapan pagi. Maka kita sepakat sarapan dulu sebelum turun beraksi, mumpung kondisi tangan masih bersih.
Sarapan bersama di sawah bagi saya adalah hal sangat mengasyikkan dan sangat nikmat. Tidak jarang bila saya mengantarkan sarapan ke sawah atau istilah lainnya ngirim orang yang sedang bekerja di sawah, pasti ikutan sarapan .dan mungkin yang belum menikmati sarapan di sawah bisa dicoba.
Terkait dengan nikmatnya sarapan di sawah, saya ingat cerita teman sekamar waktu diklat bahasa Indonesia di balai DIklat Keagamaan Surabaya, saya namanya B. Nelly dari Jember. Beliau cerita waktu hamil b. Nelly dan suaminya melewati sawah dan kebetulan lagi musim panen padi dan saat itu para pekerja lagi menikmati sarapan.
B. Nelly bilang pada suaminya, "" Mas, maukah memintakan sedikit sarapan yang lagi dinikmati oleh orang yang lagi memanen padi itu?"" si Suami dengan senangat juga turun dari mobilnya dan ke sawah yang kebetulan juga agak jauh jaraknya dari jalan untuk memenuhi permintaan istrinya yang lagi hamil.
Dan tidak lama suami dari b. Nelly sudah kembali dengan membawa makanan yang diberikan oleh pak tani tadi, B. nelly sebenarnya kasihan juga melihat suaminya ,makanya dia juga menikmati sarapannya pak tani dengan lahapnya untuk menghargai usaha suaminya.
Sayapun penasaran lalu saya lontarkan pertanyaan, bu Nelly itu sebenarnya jenengan memang ngidam beneran atau sengaja mengetes suami? Sebelum menjawab B. Nelly tertawa terbahsk - bahak seolah membayangkan usaha suaminya saat itu, kitapun semakin penasaran denfan jawaban bu Nelly, akirnya bu Nelly meuturkan kalau waktu iti tidak pagigidam tapi mengetes suaminya, kita berempat yang jadi teman sekamar tertawa bersamaan. dan cerita itu sampai sekarang tetap kita ingat. Dan Alhamdulillah silaturrohim kita tetap berlanjut sampai sekarang dlm wadah grup diklat BI BDK surabaya.2008,
Kita kembali pada sekolah alam, kenapa anakku menyebutnya dengan sekolah alam karena belajarnya tidak di sekolah tapi lingkungan sekitar termasuk sawah. Istilah sekolah alam ini dia kenal dari pakdenya waktu dia umur skitar dua tahun, dia ikut neneknya merumput di ladang belakang rumah. Dia duduk disamping mbah putrinya sambil main pasaran, waktu pakdenya datang dia ditanya, ibuknya kemana nduk? Dia jawab kolah, singkatan dari sekolah, la salma juga sekolah juga ya dengan mbah putri, sambil cari rumput bisa bermain ini juga sekolah namanya sekolah alam.
Tampaknya istilah sekolah alam yang diperkenalkan pakdenya tetap dia ingat dan hari inipun dia juga bilang sama ponakan bahwa hari ini kita sekolah alam. Mungkin ini termasuk pembelajaran bermakna dengan belajar langsung dari sumber nyatanya, isalnya tentang peetanian dengan kita kesawah dan mengetahui prosesnya. Sehingga tidak menimbulkan suatu verbalisme, tau artinya tapi tidak memahami kenyataannya.
Dengan mengikuti aktiftas di sawah bagi anak ,menurut saya terdapat unsur pendidikan yang sangat penting. Dia akan belajar mengetahui bagaimana seorang petani itu harus bekerja keras untuk bisa menikmati hasilnya. Sehingga dia akan bisa menghargai bahwa profesi sebagai petani itu juga termasuk pekerjaan yang bisa membantu banyak orang untuk memenuhi kebutuhannya.
Petani juga profesi mulia, darinya kita belajar tentang kesabaran ,kerja keras, berani menerima kenyataan dari hasil usahanya, yang terkadang sukses dan tak jarang juga mengalami kegagalan.
Petani akan tetap menikmati proses dari usahanya, dengan melihat perkembangan dari usahanya mereka akan bahagia terlebih bila hasil usahanya itu pas panen hasilnya baik dan harganya tinghi, maka itu adalah anugerah kebahagiaan kedua.
Dari petani kita juga bisa belajar tentang sifat lapag dada dan tahan uji. Petani tidak mudah menyerah dan tetap belajar untuk bisa meningkatkan hasil usahanya, Belajarnya seorang petani kebanyakan dari tantangan yang dihadapi dan berkat uji coba, pengamatan, hasil diskusi dengan sesama teman seprofesi merupakan ruang belajar mereka.
Para petani muda saat ini sudah berbeda dengan modek bertani jaman orangtua kita dulu, mereka tidak sekedar menanam tetapi sudah berani untuk keluar dari zona nyaman dan berani mengambil resiko untuk bisa mengjadilkan yang lebih besar.
Kalau petani dulu biasanya sawahnya ditanami padi dan ganti polowijo seperti kedelai, jagung, kacang dan lainnya, yang intinya sawahnya tetap ditanami tetapi monoton dan pilih ambil zona nyaman dengan modal yang tidak besar.
Tapi petani sekarang lebih berani menentukan jenis tanaman yang berbeda dengan lainnya dan berani mengeluarkan modal dan perhitungan waktu yang singkat bisa memanen. Misalnya kalau petani dulu menanam tebu perawatannya tidak njlimet, tidak modal besar tapi panen setahun sekali, tapi sekarang pilih yang panennya lebih cepat dan hasil yang lebih menjanjikan, misalnya ombok, bawang merah, melon, semangka dan lannya.
Trimakasih para petani, atas usahamu membantu banyak orang, semonga usaha dan rizkimu barokah. Amiin
Trenceng 2-4- 2021.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar