Jumat, 21 Januari 2022

Prof. Dr.NGAINUN NAIM PENYULUT SUMBU LITERASI



Oleh: Komsiyah S 
( MI Mafatihul Ulum Balesono Ngunut Tulungagung)

Berbicara tentang sosok  Bapak Ngainun Naim maka tak terlepas dengan dunia literasi, ibarat sebuah koin mata uang,  maka ada dua sisi yang tak terpisahkan yaitu satu sisi nama Ngainun Naim dan sisi baliknya literasi, maka tidak heran bila banyak orang yang menyebutnya bapak literasi.

M.Arif Faizan dalam acara KOPDAR II SAHABAT PENA  tanggal 27 Januari 2019 yang juga penulis ikuti, beliau menyampaikan  adagium tentang sosok Ngainun Naim seperti ini " Jika ingin kaya dekatlah dengan para pengusaha,  jika ingin harum dekatlah dengan penjual parfum dan jika ingin jadi penulis dekatlah dengan Dr.Ngainun Naim".Dan sayapun mengakui apa yang beliau sampaikan.

Nama Ngainun Naim sudah lama penulis kenal  karena beliau aslinya dari desa Sambidoplang kecamatan Sumbergempol Kabupaten Tulungagung yang merupakan desa sebelah dari tempat tinggal saya , bapak beliau seorang pendidik kepala MI Nurul Islam Miridudo dan waktu bersekolah kita sama- sama alumni MTsN Tunggangri tetapi beda tahun dan juga kita sama-sama memiliki sosok guru literasi yang sama yaitu Bpk Amrulloh almarhum yang merupakan sang penulis dan memiliki puluhan ribu  koleksi buku di perpustaan pribadinya,  tapi secara personal saya mengenal sosok bapak Ngainun Naim itu saat saya menjadi mahasiswa beliau waktu kuliah S1 di STAI Diponegoro Tulungagung, bersamaan dengan bpk Eko Siswanto yang sekarang sebagai dosen di Jayapura.

SANG DOSEN INSPIRATIF
Bapak Ngainun Naim menjadi salah satu dosen saya saat kuliah SI di STAI  Diponegoro Tulungagung. Dengan pembawaan beliau yang kalem dengan penyampaian materi yang mudah diterima , menjadikan beliau termasuk dosen idola dan  materi yang semula itu dianggap sulit menjadi sesuatu yang bisa merubah image menjadi materi yang menarik dan menantang, diantara mata kuliah yang beliau ampu saat itu tentang statistik penelitian.

Dan ada  keunikan dari logat penyampaian beliau yang kalem dan diselingi dengan " e" ,  dan jujur saya akui , saya diantara mahasiswa yang memiliki tipe saat mengikuti kuliah maka untuk memudahkan merekam saya harus menulis, walaupun tulisan  itu tidak bisa secara jelas  saya baca kembali, bahkan  juga pernah waktu mengikuti kuliah beliau saya menghitung huruf  " e" yang beliau sampaikan diantara kata atau kalimat yang beliau sampaikan.Saya ibarat panitia pilkades yang membuat coretan pagar betis penghitungan, tapi jumlah hitungan bukanlah suatu angka kemenangan dari sang kepala desa tapi jumlah huruf " e" yang disampaikan bapak Ngainun Naim dalam penyampaian mata kuliahnya. Nah dalam kesempatan ini saya secara terbuka  mengakui perbuatan saya kepada bapak Ngainun Naim  dan mohon maaf , dan saya yakin beliau memaafkan dan bahkan beliau mungkin menertawakan pengakuan saya ini.

Dalam setiap mata kuliahnya beliau memberikan pengantar materi dengan peta konsep yang menggiring mahasiswa untuk mengembangkan diri, sehingga dalam melaksanakan tugas bukan suatu beban atau sekedar menggugurkan tugas,  tetapi suatu kesadaran untuk berkembang.

PENYULUT SUMBU LITERASI
Dalam dunia literasi saya sangat bersyukur bisa mengenal dan mendapat kesempatan untuk belajar langsung dengan beliau yang diawali di sebuah acara seminar yang diselenggarakan oleh PERGUNU Tulungagung dan adanya wadah grup WA Maarif Menulis dan grup Gubuk Literasi yang langsung dalam bimbingan beliau dan dari grup ini akirnya beberapa buku antologi yang saya ikuti terbit,diantaranya: Mendulang Literasi di Kampus Dakwah dan Peradapan, Sejuta cerita tentang Ibu,The Legend Of  Blendrang,  Kuliah Daring di Tengah Covid-19 dari Berbagai Presfektif, dan Suka Duka Mendampingi Anak Belajar di Masa Pandemi. Maka benar adanya seperti yang disampaikan M.Arif Faizan , " jika ingin jadi penulis dekatlah dengan Dr.Ngainun Naim".

Dengan pemberian materi beliau tentang dunia literasi yang ringan , tidak bertele-tele, menulis itu mudah, menulis itu asyik dan menulis itu juga sebagai wahana refresing. Maka seolah terhipnotis merubah image bahwa menulis itu hal berat seolah membawa beban,  dan seolah hal mustahil terutama bagi orang yang profesinya tidak didunia pendidikan atau akademisi. 

Beliau meyakinkan bahwa menulis itu bisa dilakukan oleh siapa saja dari profesi apa saja,kapan saja, yang penting memiliki kemauan.

Beliau memberi contoh sosok Sri Lestari seorang yang dengan bangga mengaku sebagai (maaf) babu atau TKW berbagi kabar ke dunia dari sebuah loteng di dapur majikannya, tulisannya selalu ditunggu ribuan follower dan fans blognya .Berawal dari pemberian laptop bekas pemberian majikannya tanpa diajari cara mengoperasikannya kecuali dua hal yang diberitahukan yaitu tentang power dan enter. 

Sri Lestari gigih belajar menulis secara otodidak  dan akirnya dia mampu melompati batas profesi dan status sosialnya dengan menulis. Melalui menulis ,ia telah memberi ruang secara sangat luas. 

Dalam bukunya The Power of writing beliau meuliskan " sebagai seorang yang merasakan manfaat menulis, saya ingin "mempermalukan" teman-teman yang punya banyak potensi dan peluang menulis melebihi Sri Lestari tetapi belum menulis. Sri Lestari yang (maaf) babu saja bisa,mau dan mampu menulis, masak kaum yang lebih terpelajar tidak bisa?" bila anda mengetik kata kunci Babu Ngeblog di Google maka akan menemukan blog Sri Lestari yang telah melompati batas profesi dan status sosialnya dengan menulis.

Bapak Ngainun Naim dengan ciri khas bahasa yang  ringan serta bahasa sentilan sentilun bisa menyulut sumbu literasi. Diantara kalimat sentilan sentilun yang beliau sampaikan pada saya , "Ayo segera menulis , mau nunggu apa dan  kapan lagi ?" , ada lagi " tulisan itu terwujud ya bila ditulis bukan diangan-angan". dan kesempatan lain saat saya minta pendapat beliau tentang sebuah tulisan yang akan saya ikutkan dalam sebuah ajang lomba kepenulisan , beliau menyampaikan, " kirim saja, tugas kita sebagai penulis ya nulis, biar orang lain yang menilai karya kita, yang penting kita sudah menghasilkan  karya, selebihnya karya itu yang akan berbicara sendiri". Dan dalam buku karya beliau yang saya koleksi beliau berkenan memberikan tanda tangan dan ada tulisan yang menurut saya ada pesan yang dalam yaitu " Selamat Membaca dan Menulis ....".Beliau seorang penulis yang produktif dan dikenal dengan jargon    " Ini Catatanku, Mana Catatanmu?".

Dalam dunia kepenulisan beliau juga menyampaikan beberapa prinsip yang harus diketahui yaitu: Menulislah yang kita kuasai, menulislah yang kita sukai  dan menuliskah yang kita lakukan sehari-hari. Bagi orang yang mulai belajar menulis ada beberapa tahapan yang biasanya dilalui, diawali bagaimana cara mengawali menulis, apa yang harus ditulis , kemudian setelah mulai belajar menulis muncul rasa tidak percaya diri dan malu bila tulisannya dibaca atau mendapat kritikan pembaca, dan bagi penulis yang sudah lancar maka tanggapan dari sang pembaca itu justru yang sangat diharapkan sebagai apresiasi atas karyanya.

Menjadi anggota komunitas dalam dunia literasi yang beliau bimbing saya sangat bersyukur, karena selama ini saya yang hanya bergelut didunia pendidikan tingkat dasar tidak memiliki wadah untuk pengembangan diri kususnya di dunia literasi, walaupun beberapa tahun lalu pernah belajar praktek kepenulisan dengan mengikuti ajang kompetisi lomba karya tulis ilmiah bagi guru Madrasah Ibtidaiyah yang diadakan oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Keagamaan  Agama Jakarta yang kemudian dari 10  peserta terpilih dari 345 peserta karyanya dibukukan dengan judul" Paradigma Baru Pembelajaran Keagamaan di Madrasah Ibtidaiyah". dan ini buku antologi pertama kali yang saya ikuti. Namun karena belum tau bagaimana cara pengembangan diri dan tidak ada pembimbing , maka aktifitas kepenulisan saya seolah padam.

Maka untuk menghidupkan sumbu literasi yang sempat padam, saya ingin untuk belajar walaupun rasa belum percaya diri itu masih tetap ada. Untuk memupuk rasa percaya diri itu diantaranya saya mengoleksi dan belajar dari buku-buku karya bapak Ngainun Naim diantaran judulnya: Menulis Itu Mudah (40 Jurus Jitu Mewujudkan Karya), Spirit Literasi Membaca Menulis Dan Transpormasi Diri, Proses Kreatif Penulisan Akademik, The power of writing ( mengasah Ketrampilan Menulis Untuk Kemajuan Hidup), Literasi Diri ( tentang Aku dan buku-bukuku), Rekonstruksi Pendidikan Nasional membangun paradigma yang mencerahkan, selain itu saya juga membaca diakun facebook beliau.

Dari buku "Menulis itu Mudah" karya Bapak Ngainun Naim,  kita menemukan jurus-jurus jitu dalam menghasilkan karya tulis diantaranya ; Menulis yang diketahui. Menulis Secara Ngemil. Menulis tentang Perjalanan. Formula satu hari lima Paragraf. Banyak Membaca Banyak Ide. Belajar menulis kepada Penulis.Menulislah sebelum ditulis. Menulislah Secara Berani. Kegiatan Harian Sebagai Ide Tulisan. Membuatlah blog dan isilah secara rutin. Menulis itu Proses Untuk Belajar. Menulis Membuat Unggul.

Jurus yang lain yang beliau suguhkan bahwa : Bisa Menulis Merupakan Suatu Anugerah. Luangkan Waktu , Bukan Menunggu Waktu luang. Dengarkan, Catat dan olah menjadi tulisan.Yakinkan Diri Bahwa Anda adalah Penulis.Menulis Tanpa Beban.Jalani,nikmati dan Syukuri. Empat Level Malu dalam Menulis, Menulis Banyak Memberi rezeki.Menulis Membuat Plong. Menulis Membutuhkan Perjuangan.Menulislah Seperti Jam Dinding. Menulis itu ada Levelnya. Jadikan Menulis Sebagai Hobi. Menjadikan Menulis Sebagai Suatu Kebiasaan. Menulis Itu Ketrampilan Sekolah Dasar. Banyak Membaca Banyak Ide. Rekam,Transkip dan Olah Menjadi Tulisan dan jurus Menulis Diri . Memberdayakan Diri. Jurus jurus menulis ini selengkapnya tertuang dalam buku " Menulis itu Mudah" karya Bapak Ngainun Naim.

Sedangkan Buku The power of writing merupakan buku yang sarat dengan motifasi. Dalam buku ini bapak Ngainun Naim membongkar ketidakbenaran mitos bahwa  menulis itu sulit dan membangun keyakinan bahwa menulis itu mudah. Bermula dari sinilah akan lahir kekuatan tulisan yang mampu menggerakkan dari yang statis menjadi aktif dan dari yang pesimis menjadi optimis.

DR.H.Supriyanto , S.Pd, M.Pd , dosen PPs Universitas Kajuruan Malang dalam Endorsement di buku The power of writing  menyampaikan,  "Budaya lisan kita belum seiring dengan budaya tulis. Kita bisa bercerita panjang lebar semalam suntuk, tetapi macet ketika menuangkan ide untuk menulis. lewat tulisan Dr.Ngainun Naim  The power of writing mengajak kita untuk membangkitkan gairah menulis sehingga menulis menjadi budaya,'.

Dalam buku The power of writing , memuat berbagai Spirit Menulis, Motifasi Menulis, Alasan Menulis, Hambatan dalam Menulis,Strategi Menulis, dan pentingnya kita belajar Menulis dari Para tokoh. 


Inti tulisan Bapak Ngainun Naim dalam buku ini diantaranya : Penulis besar tidak akan larut dalam kondisi spirit yang menurun.Ia akan selalu berusaha mencari jalan agar spirit menulisnya kembali meningkat.Sementara penulis pemula,ia akan pasrah pada keadaan,pasifdan menunggu momentum untuk menulis.
Kesulitan menulis biasanya disebabkan karena 'jam terbang " menulis yang belum tinggi.Membuat blog merupakan sarana untuk meningkatkan " jam terbang". Semakin sering blog diisi maka semakin terlatih menulis.

Membaca dan menulis merupakan sarana untuk menambah waawasan, pengetahuan ,ketrampilan dan kemampuan untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas diri.

Membaca dan menulis itu memiliki energi besar untuk merubah hidup kita.Jadi mari membaca, serap energinya,dan menjadi diri yang terus memiliki nilai tambah setiap hari.Setelah itu tulis dan kembangkan agar diri kita semakin berdaya.

Menghasilkan tulisan membutuhkan suatu proses dan perjuangan yang tidak ringan.Banyak yang tidak tahan menjalaninya sehingga tulisan gagal dibuat. 

Kesibukan rutin,rasa malas, kecilnya penghargaan dan berbagai faktor lainnya yang menjadi penghambat proses menulis.

Menulis yang baik itu membutuhkan proses panjang .Dibutuhkan kesabaran dan ketekunan untuk menghasilkan tulisan.Kesabaran itu berkaitan dengan bagaimana bertahan dari segala godaan agar sebuah tulisan bisa selesai. 

Ketekunan berkaitan dengan bagaimana terus menerus menulis sampai selesai. Sikap semacam inilah yang dibutuhkan agar seseorang mampu menjadi penulis yang berkualitas.

Menulis yang baik membutuhkan satu syarat yang sangat mendasar yaitu rajin membaca. Semakin banyak membaca maka seseorang akan semakin banyak perbendaharaan wawasan dan pengetahuannya yang kemudian dapat diadikan sebagai modal unuk menulis.Mustahil seorang yang mampu menulis secara baik jika tidak pernah membaca.

Bapak Ngainun Naim juga menuliskan pendapatnya bahwa" Menulis itu bentuk perjuangan. Banyak yang berpendapat bahwa menulis itu membutuhkan waktu yang tenang, khusus dan sedang tidak sibuk. Jika rumus itu dipakai, barangkali saya akan sangat jarang untuk menghasilkan tulisan.Lima hari dalam seminggu saya harus pergi ke kantor.Berangkat sekitar jam 6 pagi dan sampai rumah setelah magrib, Hari Sabtu dan Minggu biasanya saya pakai untuk kegiatan keluarga, sehingga nyaris tidak ada waktu untuk menulis".

Ketrampilan menulis itu sesungguhnya sangat penting. Sayangnya, sampai sejauh ini hanya sebagian kecil saja yang mau menekuninya.Karena itulah saya kira tidak berlebihan bila penulis itu disebut makhluk langka.

Kunci penting menulis itu salah satunya adalah tidak mudah menyerah Jika menyerah tentunya tidak akan menjadi penulis yang berhasil. Penulis yang berhasil semuanya memiliki mentalitas tahan banting. Berbagai hambatan dan tantangan yang dihadapi dapat diatasi dengan baik.

Beliau juga menuliskan bahwa tugas penulis itu ya menulis dan penulis itu tidak mengenal pensiun. Karena itu aspek penting yang harus dilakukan sebagai bagian dari identitas sebagai penulis adalah terus memproduksi karya .Seorang Penulis tidak akan disebut sebagai penulis jika hanya berbicara saja. Bukti bahwa seseorang itu disebut penulis adalah karya yang ia buat.

Para Penulis hebat adalah mereka yang mau berbagi  pengalamannya dalam menulis. Mungkin mereka sekedar menulis saja, tetapi jika tulisan itu mampu menggerakkan orang lain untuk menulis, Insyaalloh nilai kebaikannya terus mengalir. Itu adalah bagian dari isi dari tulisan-tulisan bapak Ngainun Naim dalam bukunya yang berjudul The Power Of Writng.

Dan tulisan ini penulis buat untuk memenuhi kehormatan atas undangan menulis antologi dalam rangka pengukuhan Guru Besar Prof.Dr.Ngainun Naim . Saya ucapkan selamat kepada Bapak atas pengukuhannya sebagai guru besar, semoga tulisan saya yang dalam proses belajar ini turut menjadi kado kecil buat kesuksesan bapak dan keluarga. Semoga jenengan sekeluarga senantiasa dalam lindungan dan ridho Alloh SWT, sehat selalu dan penuh keberkahan. Dan terimakasih atas ilmu yang bimbingannya, mohon doa restunya semoga  ilmu saya  bermanfaat. Amiin
Tulungagung, 21 Januari 2022

Profil  Penulis.
KOMSIYAH S, M.Pd.I . 
Kepala MI Mafatihul Ulum Balesono Ngunut Tulungagung. Alamat rumah Dusun Ngasinan Ds.Trencenng, Sumbergempol Tulungagung, Jawa Timur. Nomor WA.081615668208. Nama Suami Kobir dan nama anak Mufidatus Salma Hamda Syauqiya. Buku Antologi : Paradigma Baru Pembelajaran Keagamaan di Madrasah Ibtidaiyah, Sejuta Cerita Tentang Ibu, Mendulang Literasi di Kampus Dakwah dan Peradapan, The Legend Of  Blendrang, Kuliah Daring di Tengah Covid-19 dari berbagai prespektif, Suka Duka Mendampingi Anak Belajar di Masa Pandemi.

Jumat, 24 Desember 2021

MOTIFASI DAN ALIBI



MOTIFASI DAN ALIBI
Siapapun orangya  Pasti meharapka suatu kesuksesan. Namun tidak semua cita-cita itu terwujud sesuai harapan.

Untuk mewujudkan suatu haraan diperlukan suatu usaha , kerja keras dan mental untuk tidak mudah mrnyerah.

Untuk maju kita harus berani keluar dari zana nyaman untuk menghadapi berbagai tantangan dan hambatan yang menyertai suatu proses menuju perubahan.

Da dalam berproses ini harus dengan kerja nyata, tidak sekedar cita - cita yang hanya diangan -angan yang tidak diusahakan dengan kerja nyata.

Tipe orang dalam melakuan suatu usaha menurut saya bisa dibedakan menjadi tiga yaitu.
Pertama: Tipe Penggerak, disini orangnya memiliki suatu kesadaran dan motifasi kuat untuk sukses.Mereka memiliki dalam melakukan sesuatu sudah siap dengan segala resiko dan tantangan yang akan dihadapi. Konsisten dengan tujuan dan tidak mudah menyerah.

Tipe kedus: Pengikut, yaitu orang yang ingin maju atau sukses karena melihat kesuksesan dan kemajuan orang lain.Sehingga mereka cenderng meniru atau mengikuti, jadi motifasinya akan terpengaruh dengan motifasi ekstrinsik atau dari orang lain.

Tipe ini masih ada kemuan untuk berusaha kearah kemajuan, tapi kadang usahanya tidak dimaksimalkan dan kurang berani untuk berspekulasi keluar zona nyaman dan menghadapi tantangan.

Tipe ketiga yaitu tipe pendiam, dalam tipe ini seseorang yang tidak memiliki keinginan kuat  untuk berubah karena mereka merasa sudah nyaman dengan kondisinya, 

Menurut penulis kondisi ini karena mereka tidak memiliki keberanian keluar dari zona nyaman dan menghadapi tantangan. Untuk tipe ketiga in mereka motifasi trininya sagat lemah maka motivasi eksyrsiknya yangungkin bisa membantu perubahannya.

Maka dari ketiga tipe ini mereka akan memiliki alibi dalam menghadapi kesuksesan atau kegagalannya.dan mungkiungkaan ini diantranya  "" ADA KEMAUAN PASTI ADA JALAN" dn bagI YANG TIDAK MEMILIKI KEMAUAN MEREKA JUGA MEMILIKI BANYAK ALASAN"

Nah kita pilih untuk mengumpulkan energi positif untuk memupuk OPTIMISME atau sibuk mengarang kalimat untuk membuat 
ALASAN.

UNTUK BERUBAH BISA DIAWALI DARI HAL-HAL KECIL, DARI DIRI SENDIRI DAN KALAU TIAK DIMULAI SEKARANG, KAPAN LAGI ?

Semoga kita iberi kekuaan dan bimign Alloh utuk memilii motifiasi untuk berbuat terbaik dan mejadi yang lebih baik.amiin

Trenceng desember 2021




Rabu, 22 Desember 2021

IBUK

IBUK


IBUK
Karya : Mufidatus Salma Hamda Syauqiya.
Siswa: MI Mafatihul Ulum Balesono kelas 2

Trimakasih ibuk
sudah melahirkan dan membesarkanku
Dan sudah mengasih kasih sayang kepadaku

Tetapi...
Aku tidak bisa membalasmu
Kau seperti bidadari
Yang turun dari syurga

Ibuk ...
Walaupun aku bandel
 kau tetap mengasih kasih sayang padaku
Maafkan aku ibuk

Ibuk..
Bimbinglah aku
Maafkan salahku
Doakanlah diriku

Ibuk
Berikan restumu
Semoga, aku sukses
 dunia akherotku
Jadi putri solihah 
Yang taat padamu

Kunyanyikan lagu ini untuk ibuk
Kaulah ibuku
Cinta kasihku
Terimakasihku
Takkan pernah terganti

Kau bagai matahari
Yang selalu bersinar
Sinari hidupku
Dengan kehangatanmu.

Selamat hari ibu 2021
dari Salma putri kecil ibuk

Salma kls dua, 22 desember 2021





.


Senin, 20 Desember 2021

PROSES, WAKTU DAN KESABARAN

PROSES,WAKTU DAN KESABARAN.

Dok.foto bersama bu Nyai Hj.Nurmiftah dan gus dhofi di PP Roudlotul Hanan Sawentar Kanigoro Blitar.

Pada hari Selasa taggal 14 Desember 2021 saya denga mbak Eni, mbak Ulik ,mbak Sriani , mbak Imanah juga suami dan anakku takziah ke Jeblok ,Talun,Blitar.

Nah sepulang takziah kita agendakan untuk silaturrohim ke gus Ahmad Mudhofi / gus dhofi di Pondok Pesanten Roudlotul Hanan Sawentar kecamatan Kanigoro Blitar.

Jadi kalau kita ke Jeblok bila dudah di perempatan Kanigoro timurnya kantor bupati Blitar kuta kearah timur jurusan Malang, maka bila ke Sawentar dari perempatan Kanigoro ke utara kira-kira 3 km sebelum lampu lalulintas kita belok kiri untuk menuju lokasi pondok.

Gus Dhofi itu aslinya tetanggaku dan juga teman sekelasku di MI Islamiyah Pandansari, dan sekarang sebagai pengasuh Pondok Pesantren Roudlotul Halan yang dulu yang mendirikan dan pengasuhnya mbah KH.Nur Miftah atau ada yang menyebutnya Mbah KH.Solikhi atau juga dikenal dengan mbah kyai seribu masjid, karena peran beliau yang turut membidani peletakan batu pertama dan pendamping pendirian masjid dan madrasah yang tidak terhitung jumlahnya.Dan peran itu sekarang dilanjutkan gus Dhofi.

Gus Dhofi memang teman saya tapi sekarang beluau guru dan juga kyai saya.Maka bila ada kesempatan kita sempatkan silaturrohim dan kadang kita juga berbincang dengan teman- teman di grup alumni jaman MI yang  tetap eksis.

Alhadulillah saat kita sampai ke pondok, beliau pas membuka pintu ndalem, dan kita langsung ke masjid dulu untuk menunaikan sholat dhuhur, dan ternyata kita di dalam masjid sudah dipertemukan dengan mbah yai Hj.Nurmiftah.

Stelah sholat kita ke ndalem dan sperti biasanya kita berbincang- bincang terutama terkait dengan pendidikan,diantara dawuh beliau tentang " PROSES, WAKTU DAN KESABARAN"

Dalam perjuangan terutama dalam hal pendidikan tentunya harus melewati suatu tahapan berproses, tidak bisa secara instan, karena dalam pendidikan tidak cuma penyampaan suatu materi tapi penanaman karakter.

Tahapan yang mengiringi proses adalah waktu , Dalam penanaman karakter diantaranya dengan pembiasaan dan percontohan, disinilah peran seorang pendidik yang sangat utama.Penanaman karakter dan tauladan ini tidak bisa tergantikan .

Ini bisa kita ambil hikmah dari dampak pembelajaran secara darring kemarin, mungkin secara materi pembelajaran masih bisa diatasi dengan berbagai strategi yang didukung oleh perangkat tehnologi namun tidak demikian terkait tauladan,sosok guru teladan tetaplah tidak bisa tergantikan, 

sehingga bisa kita saksikan dan kita rasakan waktu awal masuk sekolah setelah sekian lama dengan pembelajaran daring, anak -anak seolah tidak mudah nyambung dan perlu waktu pengendalian dan sebagian wali murid mengeluh ambyar. Nah disini perlu waktu untuk pembenahan.

Hal selanjutnya setelah proses, waktu  adalah kesabaran. Dan kesabaran ini sudah harus melekat mulai dari prises dimulai. Menghadapi siswa yang beraneka ragam kemampuan dan latar belakang menuntut suatu kesabaran dan penyesuaian agar esensi dari tujuan pendidikan dapat tercaai.

Terkait kesabaran idalam menghadapi beraneka ragam karakter siswa, gus Dhofi meyampaikan" TIDAK ADA ANAK NAKAL, YANG ADA ANAK YANG BUTUH PERHATIAN, DAN TIAK ADA ANAK YANG BODOH , YANG ADA ANAK YANG ERLAMBAT DALAM BERFIKIR"

Dan saya ingat alam pemelajaran Quantum teaching disampaikan" Mauklah kedunia mereka lalu bawalah meteka ke dunia kita"

Semoga kita semua jadi pendidik dan jadi teladan yang pantas untuk mereka tiru dan mereka banggakan, Dan semoga ilmu kita dan murid-murid kita manfaatbarokah.

SELAMAT BERPROSES...

Trenceng desember 21


Sabtu, 18 Desember 2021

SALAM LITERASI DARI MI MAFATIHUL ULUM BALESONO.

SALAM LITERASI 
dari MI Mafatihul Ulum Balesono Ngunut.
dokumentasi saat penandatanganan kerjasama antara MI Mafatihul Ulum Balesono dengan Perpustakaan Daerah dan Kearsipan kab.Tulungagung.

Alhamdulillah di taggal 18 Desember 2021 kita sudah 4 tahun menjalin kerjasama dengan perpustakaan Daerah dan Kearsipan Kabuaten Tulungagung, 

Tepatnya Tanggal 18 Desember 2017 kita menadatangani surat kerjasama dalam bentuk peminjaman drop book, yaitu peminjaman buku bacaan sejumlah 50 buku untuk dimanfaatka anak anak di perpusakaan madrasah ,dan dalam waktu satu bulan kita tukar dengan buku yang baru.

Kerjasama kita bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kecintaan peserta didik kepada dunia literasi terutama penanaman hobi membaca dan  mencintai buku.

Tidak diragukan lagi bahwa peran dunia iterasi memberi dampak positif pengaruh besar kepada yang menekuninya. Dengan mendekatkan kepada dunia literasi diharapkan dapat memperluas wawasan, pengetahuan, kreatifitas dan juga kesadaran akan pentingnya terus belajar.

Untuk mewujudkan hal diatad maka harus dibiasakan sejak dini untuk hobi membaca dan cinta pada buku, namun tak sedikit terkendala oleh buku bacaannya, yang mayoritas di madrsah atau sekolah perpustakaannya tidak ada atau mungkin tidak difunsikan.

Kondisi ini bisa dipengaruhi oleh beberaa hal diantarana: Pertama Kurangnya perhatian dari lembaga terhadap fungsi dan keberadaan perpustakaan,  Kedua Ketersediaan buku- buku bacaan di sekolah, kalau ada paling buku paket pelajaran, itupun mungkin tidak lengkap, Ketiga, secara mayiritas di madrasah atau sekolah tidak memiliki ruang perpustakaan secara kusus ,apalagi buku bukunya.

Sementara untuk menumbuhkan minat baca, anak anak perlu dirangsang dengan buku bacaan yang berfariatif, mulai cerita bahkan yang cerita bergambar.

Menyadari adanya kendala tersebut maka perlu adanya upaya yang paling tidak bisa menyikapi sebuah hambatan bisa dijadikan tantangan, maka perlu suatu upaya- upaya yang sekiranya bisa dilaksanakan.

Diantara upaya dalam dunia literasi di MI Mafatihul Ulum Balesono adalah menjalin kerjasama dengan perpustakaan Daerah dan Kearsipan Tulungagung, selain drop book, kita juga kerjasama dengan program mobil perpustakaan  keliling, dan madrasah kita sudah beberapa kali didatangi mobil perpusakaan keililing ini.

Selain menumbuhkan minat baca maka kuta juga melatih anak untuk belajar menuangkan imajinasinya  kedalam bentuk tulisan.Pada moment- moment tertentu misalnya, hari guru, hari ibu, hari pahlawan, HUT Ri, hari pramuka ,mereka kita bimbing dan ditugasi untuk membuat karangan, bisa bentuk puisi, cerita bergambar atau tulisan bebas.

Yang baru kita laksanakan adalah membuat ucapan dan karangan dihari guru, dan menjelang tanggal 22 desember yang merupakan hari ibu, dan kebetulan waktu liburan sekolah anak- ansk ada tugas untuk membuat karangan dengan tema "IBU".

Dan Alhamdulillah sampai saat ini minat baca anaj-anak cukup tinggi, dan biasanya sambil mengambil rapot anak- anak sambil berinfak buku cerita untuk menambah referensi buku di perpustakaan kita, walau belum memiliki ruangan perpustakaan tersendiri.

Untuk menyikapi kendala ruang perpustakaan kita sikapi dengan menempatkan buku perpustakaan yang ada baik dari perpusda atsu buku hasil infak siswa di keranjang perpustajaan yang bisa diusung ke kelas- kelas atau kadang ke teras sekolah atau aula, sehingga keranjang perpustakaan ini seperti mobil perpustaktakaan keliling.

Dan yang lebih penting dari sarana dan prasarana perpustakaan adalah adanya pengelola dan perhatian dari lembaga dan guru yang memang juga memiliki rasa senabg kepada dunia literasi.

Cintailah buku, biasakan untuk gemar membaca, temukan kenikmatan dalam membaca dan rasakan keluasan wawasan dan  tuangakan hasilnya dalam bentuk tisan.

Dengan menulis, kita belajar berbagi, dengan menulis kita belajar nenjalin silaturrohmi dan dengan menulis kita memperpanjang kemanfaatan hidup dan memperkuat kualitas diri dan peradapan.

Dan harapan kita dari belajar menulis kita akan bisa mewujudkan buku Antologi, yaitu karya bersama yang dibukukan. Saya yakin insyaalloh bisa.

Salam literasi.


Kamis, 16 Desember 2021

JENG PUR......DAN KELUARGA BISCUIT

JENG PUR ...DAN KELUARGA BISCUIT


dok.alumni PGAN TA 92  di ndalem b.Umi Habibah des 2021. Jeng Purwati, kang slamet harianto, mbak umi chabibah, mbak nurul hidayati , istrinya kang daroji,kang suhuddin, kang suhudin, kang daroji, mas Kobir suamiku, mbak Nur khoiriyah, aku dan putri kecilku salma kls 2.
Istilah keluarga biscuit ini dilontarkan oleh kang H.Kamil Watulimo Trenggalek dalam komentar unggahan foto mruyuk  kita teman teman abu- abu putih alumni PGAN Tulungagung 92 .

Foto itu saat kita kumpul tak terencana di rumah mbak Umi Chabibah , sudah sangat lama kita tidak ketemu terutama dengan mbak Umi dan kluarga karena beliau tugasnya berpindah pindah antar pulau dan antar provinsi dan sekarang sudah menetap di Tulungagung ,tepatnya di sbelah timur kantor kecamatan Sumbergempol.

Reuni kita yang biasanya dilaksanakan setiap tahun ini sudah absen dua tahun karena adanya wabah pandemi covid 19 yang di negara kita mulai maret 2019 dan sampai saat ini di penghujung tahun 2021 belum spenuhnya tuntas dan aman.

Maka begitu kita ada kesempatan ketemu kali ini yang tiba-tiba saat takziah ke salah satu suami teman, kita tidak menyia-nyiakan kesepatan berkumpul.

Saya takziah hari selasa bersama mbak Eni, mbak sriani, mbak Zahrotul Muslihah serta suami dan putri kecilku si Salma yang masih kelas dua MI.

Saya dikabari kang Daroji kalau mau takziah bersama kang Suhuddin, mbak Purwati, kang Slamet juga mbak Nurul Hidayati dan bu Umi Chabibah.

Saya berpesan kepada kang Daroji bila sudah sampai Tulungagung kita agendakan harus bisa ketemu. 

Sementara rombongan yang lain Kang Samsul huda ,mbak Masfiah dan mbak Halim juga dalam hari yang sama.

Waktu takziah di rumah bu Tatik tidak bersamaan tapi kita bisa nyambung lewat media grup.seolah bisa kumpul.

Sbagaimana pesan saya ke rombongan kang Daroji yang dari Munjungan , maka begitu pulang dari bu Tatik kita memutuskan untuk ketemu di ndalemnya mbak Umi Chabibah yang baru beberapa bulan pulang kampung, dan ini merupakan silaturrohim yang pertama di rumah baru.

Skitar jam 17.00 mbak Umi Chabibah mengabari bahwa rombongan teman- teman Munjungan yang barusaja dari Blitar sudah nyampai dirumahnya, maka kami sekeluarga bersiap meluncur kesana, dan pas adzan magrib kita sampai.

Hal yang biasa kususnya para emak-emak kalau ketemu heboh, terlebih sudah lama tidak ketemu. Kehebohan kita ditunda untuk jamaah solat magrib.

Stelah solat magrib kita kumpul di meja makan sambil berbincang dengan heboh.
Jeng Purwati yang sangat lucu berkelakar, " Aku muarem bisa ketemu konco-konco ,seolah umurku jik belasan sragame abu abu putiih ,jadi ditanya kabar tentang cucu aku kok  tengak tengok ndak nyambung lali lek wis do tuwek"

Tsk ayal dari pembukaan kelakar jeng pur itu seolah menjadi pintu pembuka kenangan jaman sragam abu-abu. Dulu itu jaman PGA kita untuk sragam perempuan memakai jilbabnya masih waktu seragam abu abu putih di hari senin selasa. Selebihnya masih tanpa jilbab dan bai siswi putri masih dengan rok dibawah lutut.

Kang Slamet menimpali  kelakar jeng Purwati dengan mengatakan, " lah jeng Pur ki wis dadi mbah barang kok dak kroso, memang baru punya cucu umur 6 bulan . Jeng pur langsung menjawab," Ancen aku  ki lek wis kumpul konco ngene iki rumasaku jik umur 17 tahun  gae sragam ,gek aku biyen yo duablek"

Seolah ada yang jadi pemandu sorak, kita ketawa bareng, seru saget ngakak bareng.ya ini senine reuni, lali hutang, salah satu komentar teman.

Saya menanggapi yang disampaikan jeng Pur " La iya jeng Pur itu dulu waktu liburan dan mudik ke Munjungan pasti nambah waktu satu minggu. Tutup seminggu jadi dua minggu, tutup libur panjang satu bulan ya ditambah satu minggu.

Kalau ditanya gurunya kenapa kok baru masuk? Jeng Pur bisa menjawab ringan dengan jawaban diplomatis, ya ciba bapak ke Munjungan nanti kalau sudah tau jalannya pasti mau kembali itu menjadi berat.Maka bagi guru yag belum pernah kesana pasti menganggukkan kepala dan berkata ya sudahlah.

Jeng Pur itu orangnya asyik, nyantai, lucu, setia kawan, open sdulur dan serba bisa terutama bidang seni suara, mulai nyanyi lagu dangdut, keroncong, campursari bahkan juga bisa sebagai sinden.

Membicarakan tentang sinden jadi ingat dengan alnarhum bapak Takyin ,guru kita waktu PGA dan waktu reuni PGA kelas kiita yang pertama di rumah kang Huda Tanjung Kalidawir, istri beliau yang saat itu juga rawuh dan kebetulan beliau sebagai dalang perempuan.Mengetahui keahlian Jeng Purbisa nyinden dan campursari tampaknya juga ada petung .

Dan beberapa tahun lalu kita juga pernah kerumah jeng pur saat beliau ada hajatan, dan Alhamdulillah kita kompak dan pos kita di pasar kampak,Adapun untuk ke munjungan kita sudah dipersiapkan kendaraan dari sana  

Ada Yang unik untuk membedakan tempat penitipan kendaraan di Kampak dan tempat lain.Kalau di tempat lain biasanya yang ditempatkan sepeda motor dan sepeda pancal atau orang ponorogo menyebutnya pit, tapi kalau di Kampak sudah membawa mobil bila ke Munjungan harus ganti mobil atau ganti sopir kusus jurusan Munjungan.

Disela-sela gojekan kita dengan Jeng Pur eeee....pak Doto suaminya jeng Pur yang hari ini tifak ikut. Tanya posisi dimana dan pulangnya jam berapa? 

Dari tilpun itu gojekan kita semakin seru karena heng pur juga crita vawa mas Doto tidak bisa tidur bila tidak ditemani jeng Pur.

Ditengah keseruan perbincangan kita tak lupa diabadikan dengan foto bersama yang diambil oleh suaminya bu Umi Chabibah yang baru kedua kalinya ketemu kita- kita.dari foto itulah yang kemudian setelah diubggah di grup WA kita dikomentari  kang H.Kamul seperti keluarga biscuit sayange beliau dak ikit.
Itulah sekilas coretab tentang " JENG PUR DAN KELUARGA BISCUIT" .

Bak pertemuan dalam mimpi, tidak direncanakan, waktunya singkat tapi Alhamdulillah kompak dan insyaalloh silaturrohim yang berkah.

Semoga poro sdulur sedoyo tansah pinaringan rahayu wilujeng lir ing sambikolo, soho silaturrohim kito saget lestari soho penuh keberkahan, amiin

Trenceng desember 2021

Minggu, 12 Desember 2021

ANTARA MUNJUNGAN DAN JEBLOK BLITAR

ANTARA MUNJUNGAN - BLITAR
Munjungan...oh Munjungan, begitu menulis atau bilang tentang Munjungan pasti terbayang jalur meliuk-liuk, jalan menantang yang menguji nyali, pemandangan yang sangat elok dan desiran hati, dak dik duk jantung mengiringi laju kendaraan dan seolah semua konsentrasi jadi sopir yang mengemudi.

Munjungan bagi kami keluarga abu-abu putih alumni PGAN Tulungagung sangat melekat karena banyak sekali kelurga kita dari sana.

Hari ini Kamis  9-12-2021 Alhamdulillah Alloh masih memberi kita kesempatan untuk bertemu dengan para saudara abu abu putih itu. 

Kita bukan hanya sekedar teman sekolah, tapi kita menjadi saudara yang sangat kompak.kekeluargaan kita bukan hanya dari satu sisi alumni waktu berseragam abu abu putih, tapi kita kompak dengan para anggota keluarga, karena waktu reuni kita juga dengan keluaga.Jadi para putra putri kita juga saling mengenal

Dan waktu saya menulis ini para saudaraku  Munjungan  pasti masih menempuh perjalanan pulang meliuk liuk di jalan menuju Munjungan yang hari ini  baru takziah ke suami bu Hartatik Jeblok Talun Blitar .

Diantara sdulur munjungan yang hari ini bisa kumpul adalah Kang Daroji bersama istri, kang Suhuddin, dan mbak Sri purwati. 

Pos pertemuan kita di rumah mbak umi habibah, dan Alhamdulillah tanpa direncanakan kita bisa kumpul dan reuni kecil kecilan tapi cukup mengobati rasa kangen kita.

Diantara yang kumpulselain yang dari Munjungan ada kang slamet, mbak nurul hidayati kang dofir, kang subha subhi dan saya bersama suami dan putri kecilku..

Sementara rombongan pak huda, mbk masfiah dan mbak halim tidak bisa gabung karena ada keperluan penting.

Dari foto-foto kita yang diunggah ke grup akirnya teman yang lain bisa gabung dan grup wa jadi ramai menemani perjalanan saudara Munjungan melingkari jalan menuju rumah kediamannya .berangkat dari Duljati setelah solat isyak dan memberi kabar sampai Munjungan hampir jam 24.

Alhamdulillah persaudaraan kita tetap terjalin dengan baik, kita tidak memandang profesi, kedudukan, pangkat dan strata sisial ekonomi, tapi kita bersaudara saling menguatkan bila ada yang mendapat ujian, dan yang unik kita dengan anggota keluarga dan anaj2 nya menyambung.

Jadi walau antara Munjungan dan Blitar ya lumayan jauh ,tapi tetap bisa ditempuh karena jarak tidak menghalangi niatan kita untuk saling mendukung dan memperkuat silaturrohim.