CERITA TENTANG SHOF SOLAT, TELUR REBUS DAN JAGUNG GORENG.
lokasi : masjid Nabawi Madinah Juli 2024.
Foto ini memiliki cerita unik yang sangat berkesan saat saya dan Bu Ulik melaksanakan sholat ashar di Masjid Nabawi.
Untuk mengikuti sholat jamaah di Masjid Nabawi paling tidak dua jam sebelum masuk waktu sholat kita harus sudah sampai masjid, mengapa demikian ?
Karena jamaahnya luar biasa banyaknya maka kita harus berburu atau bisa dibilang cepat cepatan untuk bisa sholat di dalam masjid.Di masjid Nabawi kita berpisah tempat dengan bapak bapak, jadi kita dari hotel bisa berangkat bersama tapi sesudah sampai di masjid kita akan pisah untuk mencari tempat sesuai dengan jenis kelaminnya.
Dan dipintu pintu masuk masjid itu dijaga olih beberapa askar, untuk lokasi perempuan askarnya juga perempuan.Di dalampun juga banyak Askar yang mengarahkan para jamaah dengan logat bahasa mereka yang kemudian sangat kita rindukan dengan logat kaku diantaranya : penuh- penuh,duduk ibuk, pindah pindah, maju ibuk, dan lain lain.
Diatas pintu masuk masjid terdapat bundaran lampu isyarat , bila warnanya masih hijau berarti belum penuh dan kita bisa masuk, tapi bila lampunya merah maka sudah penuh dan tidak bisa masuk.
Nah saat memburu lampu hijau yang masih menyala, para jamaah pasti berlarian ,berebut dengan harapan bisa masuk. tak jarang stelah ngantri lama tiba tiba lampunya merah maka apa bolih buat harus mencari shif di pelataran masjid yang dinaungi payung raksasa yang apabila siang akan dibuka dan bila malam tertutup. dan di tiang tiang payung sudah difasilitasi dengan kipas raksasa yang menyemburkan air untuk menyejukkan udara karena temperatur di Madinah juga tinggi .
Nah saat ini critanya pintu masjid sudah merah jadilah kita berburu shof untuk sholat ? dipelaran masjid ini ada pagar yang fleksibel bisa berubah bentuk, bisa dibuka tutup dan selalu ada penjaganya.
Kita kan berharap secepatnya bisa dapatasuk ke dalam pagar berjalan itu dan dapat shof tapi ya itu, kadang kita masih diarahkan untuk terus maju untuk menemukan pagar yang dibuka bahkan saat kita pertama kali sholat di masjid Nabawi saat sholat magrib.kitadari hotel lurus pintu 310 e kita terus diarahkan maju sampai pintu gerbang 334 lumayan jauh
Dan ini kita bisa masuk dipagar buka tutup dengan berdesakan dan tinggal beberapa tempat, kebetulan didekatku masih ada tempat, secara spontan ada ibu ibu saya pegang dan saya arahkan kesamping saya, Maklum karena kita terkendala bahasa untuk berkomunikasi paling tidak kita bisa tanya asal negaranya, dan beliau mengatakan dari Pakistan, disini yang manjur adalah bahasa tubuh dan bahasa isyarat.
Bahasa tubuh misalnya senyum atau angkat pundak,gerakan tangan dan yang saya anggap sebagai lambang bersahabat adalah saat kita berbagi apa yang kita bawa.
Mungkin sebagai luapan rasa senang siibu itu segera membuka tasnya dan ternyata mengeluarkan dua buah telur rebus kepada kami berdua sambil tersenyum renyah.
Kejadian seperti ini berulang kali saya temui, ada lagi yang unik dari orang India saya dan mbak ulik juga diberi jagung goreng, kalau di daerahku itu saya sebut jagung goreng kreweng semacam penggorengan dari tanah liat yang menggorengnya tidak dengan minyak tapi dengan pasir.Rasanya enak sekali. Setelah tempat solat kita dapatkan , selanjutnya tengah tengoklah saya ke tong zam zam terdekat
Setiap saya ke masjid pasti saya membawa botol kosong untuk saya isi air zam-zam yang sudah disediakan di tong - tong berwarna krem dan saya pilih yang not cool.
E e e...saat saya kembali dari mengisi air zam-zam itu, kutanya Bu Ulik, "mana jagungnya tadi?", Sambil tersenyum simpul dan menerima satu botol ZAM ZAM beliau bilang, "jagungnya sudah tak habiskan, la uenak mengingatkan dulu jaman kecil pernah digorengkan jagung seperti ini".
Si ibu yang memberi tadi tampaknya mengerti maksud percakapan kami, lalu beliau memberinya lagi, sambil agak senyum simpul kuucap sukron katsiron.
Kalau saya pengikat persahabatan membawa permen, bawanya ringan ,bisa tuk mencairkan suasana kaku dan paling tidak bisa melihat wajah tersenyum dari orang di sekitar kita.
Saya akui memang baik di Makkah dan Madinah itu orang orang ringan untuk bersedekah dengan berbagai macam, ada yang berupa air, snack, roti,kurma,sajadah,tasbih digital dan bentuk lainnya bahkan kalau pas hari kamis dan Jumah waktu magrib luar biasa, paketan makanan buka puasa ,pokoknya disini orang sangat Loman bersedekah.
Dan dari Bu Hajah Mar ati tetangga saya yang kerjanya di Masjid Nabawi ini mengatakan , bila kita bersedekah maka justru rizkinya agar lancar dan dipermudah Alloh.
Makanya selama saya di Madinah itu setiap hari beliau memberi kami makanan ,buah buahan ,juz buah, susu ,ote otw, bakwan bahkan dimasaknya sayur kangkung yang sudah lama tidak kita rasakan.
Beliau menyampaikan sangat senang bertemu dan hurmat ngalaf berkah para tamu Alloh terlebih bila ada hubungan saudara atau tetangga dan orang orang yang daerahnya beliau tau.
Hikmah yang bisa dipetik, untuk bersedekah kita tidak harus menunggu bila sudah berlebih, untuk bersedekah tidak harus dengan barang yang mahal ,dan untuk bersedekah bila ada niat jangan ditunda tunda, karena ada syaiyon yang akan menggoda untuk mengalihkan niatan kita.Dan sedekah tidak harus dengan materi bila tidak mampu, senyuman tulus juga bisa jadi sedekah.
Semoga Alloh melancarkan Rizki kita, menuntun hati kita untuk menjadi hamba dermawan dan ringan bersedekah atau istilah jawanya dadi wong Loman .
Dalam sebuah hadits Nabi bersabda" Tangan diatas lebih lebih baik daripada tangan dibawah.tangan Dias itu yang memberi dan tangan dibawah itu orang yang meminta.
Semoga kita tergolong umat yang ringan memberi bukan golongan orang yang meminta, Amiin.
Dan moment penting , saat di Makkah atau Madinah kita berburu tempat / shof sholat dengan datang beberapa jam lebih awal. bisakah kondisi ini kita implementasikan di rumah? bisakah tetap tetap mengutamakan sholat berjamaah? ini pengingat untuk diriku dan juga yang membaca tulisan ini.Semoga Alloh menjaga kita.amiin
SELAMAT TAHUN BARU HIJRIAH, SEMOGA KITA MENJADI PRIBADI YANG LEBIH BAIK.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar