Kamis, 04 Juni 2026

PERTEMUAN DI MASJID NABAWI

PERTEMUAN DENGAN BU HJ.MAR ATI (Tetanggaku Bekerja di Masjid Nabawi )
Dok 10-7-2024, pertemuan dengan Bu HJ Mar ati  ,lok di depan pintu gapura 216 Masjid Nabawi Madinah.

Saat itu hari  Rabu 10 -7-2024 jam 13.30 waktu Arab Saudi saya ibu dan suami sudah berada dipintu gerbang masjid Nabawi nomor 216 dan sambung dengan pintu 217 yang merupakan pintu terlebar dibanding yang lain ,karena ada dua nomor pintu .

Dan dipintu inilah para pegawai masjid Nabawi masuk dan keluar..Para pegawai ini diangkut olih bis kusus yang diturunkan di depan pintu no 316 sekitar 100 m.tepatnya di depan masjid Ali bin Abi Tolib. 

Keberadaan kami bertiga disini untuk menunggu Bu Hj Marati tetanggaku yang sudah 12 tahun bekerja di masjid Nabawi ini.
Waktu itu beliau masuknya jam 7.30 WAS  pulangnya jam 14.00.Jadi saat itu kami menunggu kepulangan beliau, maka pandangan kami mengarah pada pelataran masjid Nabawi mengamati para pegawai yang pulang dengan seragam jubah warna coklat,jilbab hitam bagi perempuan serta bercadar, jadi ya sulit mengenali .

Terus terang saya sangat penasaran dengan sosok Bu hj Mar ati, kami belum pernah bertemu,tau nya lewat foto yang sama sama kita kirimkan dan suara waktu vidio col dan pesan suara.yang menjadi gambaran saya adalah beliau berkacamata.

Setiap pegawai yang masuk dan keluar masjid Nabawi digerbang itu berhenti menghadap masjid  dan berdoa seraya menengadahkan dan mengusap tangannya ke wajah.

Setelah beberapa saat, saya mengamati dari jauh saya lihat berjalan ibu-ibu para pegawai dan salah satunya ibu sekitar umur 55 berkaca mata membawa semacam alat dorong untuk membawa tas dan bekal beliau untuk bekerja.

Saya ngomong dengan suami, " Kayaknya itu yang berkacamata  dan menarik tas seperti koper itu kok Bu Marati ya yah? Karena bercadar kita agak sulit mengenali terlebih belum pernah ketemu langsung. Maka kutilpun, ternyata benar perkiraanku.

Alhamdulillah hari pertemuan yang kita tunggu tunggu untuk bertemu dengan Bu Hj.Marati dikabulkan Alloh.Lewat WA saya kirimkan foto kami  bertiga , saya suami dan ibuk saya menunggu di depan pintu 316 seperti yang sudah dipesankan beliau. Kita memilih dibawah tembok gedung depan pintu 316  untuk menghindari panas.

Maka saat beliau keluar, kami mendekat ke gerbang pintu 316 dan beliau juga menuju arah kami.Untuk memastikan saya ucapkan salam dan saya tanya"  benarkah penjenengan Bu Mar ati? Sambil membuka cadarnya dan tersenyum bahagia penuh haru beliau menjawab  "benar.dan beliau juga bertanya" Jenengan Bu KOMSIYAH istrinya pak Kobir Trenceng gih? " Saya jawab ,"betul buk.

Maka setelah itu kami berpelukan erat karena sangat terharu,kagum dan tidak menyangka kita bisa dipertemukan di masjid Nabawi ini. 
Setelah itu saya perkenalkan beliau dengan suami dan ibuk saya.Betapa bahagianya beliau ketemu dengan ibuk saya maka ibuk saya dipeluk seolah beliau dipertemukan dengan saudara perempuannya, yang kebetulan saudara beliau adalah ibuknya teman saya yang sangat akrab dengan saya .

Sebelum berangkat haji , saya mendapatkan nomor hp beliau dari istrinya pak H.Mujib, dan  sejak saat itu kami kontak dengan beliau, dan memperkenalkan diri, maklum karena saya di desa Trenceng sebagai pendatang. Saya memperkenalkan diri istrinya mas kobir putra dari Mbah Kuselan utara pondok.sedang dalem beliau tepat di selatan masjid pondok .

Dan kebetulan keponakan beliau bernama Bu Zahrokadalah salah satu guru di madrasah saya.Jadi hubungan kita menjadi dekat walaupun belum pernah ketemu.Kita saling mengirimkan foto dengan beliau, 
Dan dari beliau saya mendapatkan berbagai masukan dan ilmu , tentang kondisi di sana yang saat itu musim panas bisa mencapai 50•c ,

Beliau juga berpesan untuk bersabar, jaga lisan atau kebersihan hati.banyak bersholawat dan beristigfar. Bahkan beliau juga memberi informasi tentang Roudhoh.

Bagian kerja beliau pindah pindah, kadang menyemprotkan disinfektan, parfum, menggelar dan menggulung karpet masjid, dan kadang menunggu di tempat wudhu dan toilet.

Di Masjid Nabawi toilet mudah kita temui biasanya di dekat pintu gerbang. Yang perlu kita perhatikan adalah gambar atau keterangan gambar laki-laki atau perempuan. Karena di Makkah dan Madinah masing masing toilet itu untuk satu jenis kelamin atau tidak campur.

Kalau kita lihat bangunan toilet seperti tidak besar tapi begitu kita masuk maka kita akan menuju arah bawah dengan tangga dan juga ada yang pakai eskalator. Dan ternyata bangunannya dibawah tanah itu luas sekali.dengan banyak toilet dan tempat wudhu yang dibangun dengan ada tempat duduk sambil wudhu.

Bu Hj Mar ati bekerja disini sudah 12 tahun dan pulang baru dua kali.Kata beliau tidak semua orang mampu dan kuat untuk bekerja di Masjid Nabawi ini, tidak sedikit yang baru bekerja beberapa waktu trus mengundurkan diri.

Yang terpenting kata beliau, niatnya untuk beribadah dan mensyukuri diberi kesempatan untuk bekerja dan beribadah di tempat suci yang penuh keberkahan ini.

Beliau bercerita sangat senang bisa bertemu dengan saudara,tetangga atau siapa saja dari tanah air, karena bagi beliau laksana ketemu saudaranya.

Maka bagi para saudara atau temanya yang berhaji atau umroh ,beliau senang menyambut dan menemuinya, karena beliau kepingin ngalaf barokah dari para jamaah yang beribadah kesana.

Saat sebelum berangkat haji saya menemui putri beliau dan saya sampaikan " mau titip apa saya bawakan dan tak sampaikan kepada ibuk nya.Dan saat inilah kami menyampaikan barang titipan dari putrinya untuk beliau.

Dan beliau saat itu membawakan kami jus buah dan susu yang menurut beliau untuk menjaga stamina dan  mengobati batuk.

Dan sebelum berpisah saya dipesani beliau, besuk pagi supaya menemui beliau dipintu 316 ini jam 7.30 saat beliau mau masuk kerja. Beliau akan membuatkan sayur segar yang mungkin lama tidak dirasakan. Saya menyampaikan kepada beliau jangan repot repot buk, karena konsumsi kami dari hotel sudah sangat cukup.

Beliau malah meminta saya untuk memberi kesempatan beliau untuk ngalap barokah kepada tamu tamu Alloh, karena dengan itu justru Rizki beliau berlimpah dari yang tidak beliau sangka.dan terpenting bisa menyambung silaturrohim dengan keluarga.

Setelah itu kami kembali ke hotel, maka jus jeruknya kubuka, dan kubagikan ke anggota regu kami yang terbagi dalam tiga kamar.
Ada pak Isrok sebagai ketua regu yang sekamar dengan Mbah Jumari dan Mbah Samin, sementara mas Kobir sekamar dengan Mbah Matal, Pak Toni dan pak  Sahuri.

Sedangkan Aku sekamar dengan Mbah Aminah,Mbah Syamsiah, ibukku mbok Yaumi dan Bu Ulik, oh tadi kamarku sebenarnya untuk 5 orang tapi karena Mbah markini yang jatah kamarnya dengan kelompok lain yang tidak begitu akrap dan tetap minta sekamar dengan kami jadilah kita ber enam dan Bu ulik ngalah tidak tidur di dipan 
Dan malamnya jus  saya bagikan. Bah - Mbah itu tak kasih sambil ngomong" Iki mau lek mu olih ko ngendi, mau susu, Iki jus ? Saya jawab " saking sderek engkang kerjo teng masjid Nabawi. 

Sambil minum jus buah Mbah markini berkomentar, " Awakmu kok Yo duwe kenalan neng kene? kok Yo apik an temen, padahal Sik dekwingi sore Kito teko Madinah."
Saya jawab Alhamdulillah mbok, Kulo dipertemukan Alloh kalih sederek tanggi teng trenceng engkang pun dangu kerjo teng mriki, dan sebelum berangkat haji kita pun sambung komunikasi walaupun belum pernah ketemu.Oh ngih Bu Marati kintun salam Dateng jenengan sedoyo, Mugi sdoyo ibadah hajinipun lancar dan mabrur, amiin.
Matursuwun Bu Mar ati atas semuanya.

SAYUR  KANGKUNG MADINAH.
dok.11 Juli 2024
Kegiatan kita di Madinah jam 03.00 waktu Madinah kita sudah berangkat ke masjid Nabawi , kalau berangkatnya lebih awal biasanya sholatnya bisa dapat tempat di dalam masjid, dan bila lampu besar didekat pintu masjid sudah merah berarti di dalam sudah penuh.maka kita sholatnya di luar dengan atap payung yang bisa dibuka tutup.

Sesampai di masjid  kita bisa sholat malam dilanjut amalan lainnya sambil menunggu sholat subuh. Setelah solat subuh  biasanya kita tidak langsung pulang untuk menghindari keramaian jamaah yang pulang bersamaan.

Jam 06.00 jatah sarapan dari hotel biasanya sudah ada.Ketua regu mengambil dalam bentuk kemasan kotak dan juga ada buahnya.

Setelah sarapan saya mandi dan bersiap-siap untuk memenuhi janjian disuruh menemui Bu Hj.Marati  jam ,07.30 dipintu gerbang 316 ,saya bersama suami.

Sambil menunggu kedatangan Bu Hj Marati saya mengunjungi masjid Ali bin Abi Tholib dan didepan masjid inilah para pegawai masjid Masjidil haram diturunkan .
Dan didepan pintu 316 -317 ini dibentangkan bener bener foto Roudhoh, lokasi dalam masjid, imamam dan lain lain untuk foto para jamaah.

Setelah beberapa waktu menunggu maka datanglah beberapa bis yang datang. Dan turunlah Bu Marati  di bis yang paling belakang.Beliau sangat gembira kami sudah ada disitu, dan beliau mengeluarkan dari tasya sambil mengatakan," Bu ini tak buatkan sayur kangkung dengan gorengan ote ote dan tempe goreng untuk tombo kangen masakan rumah"

Masya Alloh Bu penjenengan sudah lelah bekerja masih repot-repot membuatkan makanan untuk kami. Beliau malah menyampaikan" Bu, saya tidak repot dan tolong saya jenengan kasih kesempatan saya untuk ngalap barokah penjenengan -penjengan yang jadi tamunya Alloh di tempat suci ini, dan kita tidak tau kapan lagi kita bisa sama- sama beribadah di tempat suci niki. Jadi tulung mumpung saya masih berkesempatan meluapkan rasa senang saya bertemu jenengan.dan saya doakan lain waktu  bisa kesini lagi untuk umroh atau haji bersama keluarga" Saya jawab Amiin.

Berkali kali saya berteriima kasih dan kami saling berpelukan laksana beliau memeluk anaknya sendiri. Dan beliau minta besuk untuk menemui kesini lagi tapi Kulo matursuwun besuk kita ada acara city tour ke bukit Uhud, kebun kurma, dan masjid qubak .jadi mungkin besuk bisa ketemunya sore. .

Pulanglah kita ke hotel Sidra tempat penginapan kita. Sesampai di kamar hotel sambil kita membawa olih olih, si anggota kamar saya kabari, Mbah Mbah, setelah sekian lama kita tidak menikmati sayur Alhamdulillah ini olih Bu Mar ati kita dimasakkan sayur  kangkung, dan juga ote-ote dan tempe goreng.

Mbah Mbah bilang"Awakmu Ki kok gampang oleh olih panganan ae looo...wah Jan kuangen sayur sayuran.Maklum karena selama ini menu kita hampir tidak ketemu sayuran hijau, biasanya daging, jamur,ayam, patin, dan sebenarnya juga sudah disesuaikan dengan masakan Indonesia tapi ya  karena biasanya kita dirumah sayur berkuah dan disini serba kering dan bagi penggemar pedas memang perlu sambal .
Dan Alhamdulillah dari regu kita Mbah Markini membawa lemper dan uleg kayu, trus ada yang membawa bumbon  dan santan instan. 
Jadi kita bisa buat sambal dan masak bubur juga.

Saya dari rumah mengantisipasi dengan membawa sambal teri, sambal ikan asin, serundeng  pedas dan abon.selain itu kita bawa mie instan.

Alhamdulillah menu kita hari ini sayur hijau. Trimakasih Bu Marati. 

PISANG LOLOS MASUK MASJID.
Dokumen 12-7-2025 Pertemuan siang dengan Bu Marati yang biasanya saya dengan suami ,hari ini saya sendirian.Jam 13.00 saya berangkat dari dari hotel dan seperti biasanya kita melewati taman di halaman Masjid Ghumamah yang juga berdekatan dengan masjid Abu Bakar .

Menurut cerita Masjid Ghumamah in  merupakan masjid yang pertama kali digunakan solat id yang pertama kali.,menaranya lurus dan kelihatan dari kamar hotel kami.Dan masjid Ghumamah ini dekat dengan pintu 310 yang di sampingnya ada tempat untuk mengambil air ZAM ZAM dengan jumlah banyak,bisa dengan curigen, plastik kusus dan lainnya.

 Waktu saya melewati taman di depannya masjid Ghumamah saya melihat kerumunan orang berfoto foto, e ternyata ada jamaah haji dari Indonesia.Maka saya juga turut mendekat berkenalan ,ternyata beliau bernama bapak Winaryo Sutarno,dari kepulauan Riau.

Tak lupa saya minta nomor hp beliau dan saya katakan, Saya tertarik dengan perjalanan bapak bolihkah nanti kita bisa sambung informasinya pak Win. Beliau siap dan setelah foto saya izin karena ada janjian dengan saudara.Tentang perjalanan pak Winarno ini akan saya tulis di bab tersendiri.

Saya melanjutkan perjalanan menuju pintu 316, dan sambil menunggu kepulangan Bu Mar ati saya bergabung dengan para jamaah yang berfoto pada bener bener yang terpasang di samping jalan depan pintu 316. 

Saya melihat para pegawai mulai terlihat keluar dari pintu 316-317 maka saya mendekat dan bertemulah dengan Bu Mar Ati ,saya sampaikan dengan beliau kepulangan saya terbangnya tanggal 17 Juli dan bila mau nitip untuk keluarga saya sampaikan dan sepakat besuk titipan beliau diberikan.kita pagi ketemuan.

MasyaAlloh hari ini beliau membawakan saya juz dalam botol besar dan pisang .berkali kali saya ucapkan terima kasih teriring doa jazakumulloh ahsanal jazas.
Maka karena bis beliau sudah menunggu kita berpisah.

Karena saya sendirian ,maka saya rencana tidak balik ke hotel menunggu sholat ashar.Cuma saya berfikir ini saya membawa makanan dan katanya tidak bolih dibawa masuk ke dalam masjid 
Sebelum masuk pelataran masjid saya memasukkan barang ke tas punggung yang saya bawa seraya dalam hati saya berdo ,"Ya Alloh, pisang dan jus ini diberikan orang tulus yang bekerja di masjid ini, dan hamba sangat ingin untuk sholat di masjid Mu ini ya Alloh , izinkanlah hamba.
Lalu saya berdoa dan memasuki pelataran masjid saya membaca bismillah dan mantap menuju pintu masjid serta dalam hati saya terus berdoa, di depan pintu masjid ada beberapa Askar perempuan yang menjaga dan memeriksa jamaah yang masuk,  saya dengan tenang ikut antrian dan pasrah seandainya tidak bisa masuk ya saya di pelataran tidak apa apa.

Alhamdulillah ya Alloh saya bisa masuk ke dalam masjid ,menangislah saya sendirian karena suatu kebahagian. Tak henti hentinya saya mengucapkan syukur. Dan saya yakin inilah pertolongan Alloh pada saya dan mungkin juga karena ketulusan dari Bu Marati yang menolong saya.

Dan suara para petugas masjid yang mengatur jamaah dengan bahasa Indonesia yang sangat kita rindukan itu saya mendapatkan posisi yang sangat nyaman. 

Diantara aba -aba para Askar yang kita dengar waktu mengatur jamaah, diantaranya,: sana ibuk, terus-terus, penuh -penuh" dan ternyata suara dan aba-aba itu yang terngiang dan kita rindukan.

Saya gunakan waktu sebaik -baiknya, karena tidak setiap saat kita bisa  berkesempatan bisa sholat di dalam masjid Nabawi, Dengan waktu singkat seperti berburu untuk bisa masuk  karena bila lampu diatas pintu sudah warna merah berarti kapasitas yang bisa masuk sudah penuh.

Sementara untuk mencari shof untuk sholat di pelataran yang ada payungnya itu saja juga perlu perjuangan tersendiri  terkait serba serba serbi yang saya alami dalam perjuangan mencari shof akan saya tuliskan tersendiri.

Selesai sholat ashar, saya kembali ke hotel.Saya turunkan tas punggung yang saya gendong dan memang agak berat., Mbah Mbah yang sekamar saya bertanya, " tase kok sajak abot oleh opo maneh Niki?

Sambil kukeluarkan pisang dan juz buah sebotol besar saya cerita kuberi judul pisang masuk masjid. Mbah Mbah menanggapi Masyaalloh , dan sekilas ada kulihat Mbah Aminah dan Mas Syamsiyah terdiam, beliau berdua memang terkendala untuk jalannya jadi memakai kursi roda dan untuk sholatnya ya di kamar hotel, mungkin saat saya cerita pisang masuk masjid beliau ,mikir ya Alloh pisang saja masuk masjid, saya kok belum?

Dan beliau berdua juga pernah didorong dengan kursi rodanya olih pak H.Isrok dan pak H.Darto. ke Masjid Nabawi.Saya sebenarnya juga kasihan dengan beliau tapi saya tidak kuat karena beliau berdua orangnya tinggi besar.selain itu saya mendampingi ibuk saya yang juga sudah tua.

TERTUKAR TAPI YA ADA BENARNYA

Pada saat pertemuan saya dengan Bu Hj Marati yang membawakan barang yang akan dititipkan untuk anaknya Kami juga dimasakkan  dalam wadah steroform dan dimasukkan kedalam tas. 

Beliau pesan "Bu ini saya titip barang untuk anak saya dan ini ada lauk untuk rombongan jenengan". Saya jawab " inggih buk, nanti saya sampaikan dan terimakasih, penjenengan kok terus terusan memberikan makanan untuk kami.
Jawaban beliau," Mumpung bisa ketemu tamu Alloh yang juga saudara".

Dan sesampai di hotel si embah embah  agaknya hapal dengan tas yang saya bawa. Maka saya sampaikan ini ada lauk ayam dari Bu Marati, dan memang diatas steroform tertulis ayam goreng, bertumpuk 4. Dan saya matur ini ada empat BOK, yang 2 saya bagi ke teman yang lain gih? rombongan menjawab "iya"
Maka langsung lah saya bawa 2 bok itu. yana 1 saya antar ke kamar petugas kesehatan, ada Bu dr Ema, Bu Yeni dan Bu Sulis.dan satunya saya antar ke kamar mutiwif kita, Gus Syamsul,Gus bagus dan pak H.Darto.

Nah waktu makan malam , salah satu rombongan Bu Ulik membuka dua  kotak sterofomitu kok langsung mengucapkan ,"Alhamdulillah kok benar." 

Dengan kalimat itu saya penasaran maka saya mendekati temanku itu, dan bertanya, ada apa? Sambil tersenyum temanku menunjukkan, ...sambil berkata tadi yang kau berikan Jan benar karena yang ini dua duanya  bagian nasi dan yang tadi bagian lauk.

Alhamdulillah berarti sudah benar dan tidak tertukar ,coba andai yang pas kita berikan orang lain  itu nasi kita kan malu.
Maka kita tertawa bersama, ya itu Rizki kita. Untung kita masih bisa berbagi.

Saya merasa sangat bersyukur Alloh mempertemukan saya dengan orang orang baik .